eco news

Gelombang Panas Tingkatkan Angka Kematian di Masa Depan

Beberapa negara di belahan di dunia kini tengah menghadapi suhu ekstrem yang mengancam keberlangsungan hidup manusia.  Menurut The World Meteorological Organization (WMO), peristiwa gelombang panas ini berlawanan dengan La Nina, yakni siklus iklim global yang terkait dengan pendinginan. Sedangkan, menurut anggota WMO, pada enam bulan pertama di tahun 2018, terjadi siklus iklim La Nina dengan suhu paling panas dalam catatan.

Umumnya suhu terpanas di bumi didorong oleh siklus iklim El Nino. Namun di tahun 2017, suhu tertinggi terjadi tanpa didorong fenomena apa pun, termasuk El Nino. Kondisi gelombang panas ini sangat mengkhawatirkan di sejumlah negara. Di Montreal, Kanada, 70 orang meninggal diduga akibat temperatur udara yang sangat tinggi. Sedangkan gelombang panas di Jepang telah memakan korban sebanyak 65 orang dan membuat ribuan penduduk lain harus dirawat di rumah sakit. Bukan hanya di kedua negara tersebut, wilayah lainnya seperti Inggris, Rusia, dan Afrika pun turut mengalami peningkatan suhu yang ekstrem.

Menurut para ilmuwan, jika suhu semakin meningkat maka jumlah korban jiwa pun dapat bertambah di kemudian hari. Penelitan terbaru telah memprediksi bagaimana gelombang panas bisa memengaruhi jumlah kematian di masa depan. Jika semakin parah, diperkirakan gelombang panas dalam satu hari dapat meningkatkan angka kematian hingga 2000%.

Tubuh manusia bisa menjadi terlalu panas akibat meningkatnya suhu udara. Ditambah lagi hidup di lingkungan yang tidak sehat – seperti terkena paparan asap setiap hari – pada akhirnya akan membuat manusia tidak mampu menangani gelombang panas.

Menurut Antonio Gasparrini, peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Penelitian juga menunjukkan kemungkinan peningkatan frekuensi kematian akibat perubahan iklim meskipun bukti pada skala global masih terbatas.

Pada 2080, jumlah korban jiwa akibat gelombang panas di Kolombia bisa meningkat menjadi 30 orang setiap harinya. Sedangkan di Brasil dan Filipina, jumlahnya berkisar 10 atau 20 per hari. Sementara di kota-kota besar seperti AS dan Australia, angka kematian akibat gelombang panas bisa meningkat sebanyak empat kali lipat.

Lantas, adakah cara untuk mencegah peningkatan angka kematian akibat gelombang panas? Gasparrini menjelaskan bahwa kita masih bisa menurunkan jumlah kematian dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.